16 December 2011

sejarah pekanbaru

| 16 December 2011 | 1 komentar


siapa yang tak kenal dengan Pekanbaru saat ini? Pekanbaru merupakan ibukota Provinsi Riau yang oleh masyarakat Indonesia dikenal dengan hasil buminya yang melimpah dan daerah yang kental akan tradisi nilai-nilai kemelayuannya. Keberadaan Kota Pekanbaru yang ramai dan maju inipun menyimpan sejarah dan cerita tersendiri bagi masyarakat Riau. Ada dua versi mengenai asal-mula kota ini yaitu versi sejarah dan versi cerita rakyat.




Menurut versi sejarah, pada masa silam kota ini hanya berupa dusun kecil yang dikenal dengan sebutan Dusun Senapelan, yang dikepalai oleh seorang Batin (kepala dusun). Dalam perkembangannya, Dusun Senapelan berpindah ke tempat pemukiman baru yang kemudian disebut Dusun Payung Sekaki, yang terletak di tepi Muara Sungai Siak. Perkembangan Dusun Senapelan ini erat kaitannya dengan perkembangan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Pada masa itu, raja Siak Sri Indrapura yang keempat, Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, bergelar Tengku Alam (1766-1780 M.), menetap di Senapelan, yang kemudian membangun istananya di Kampung Bukit berdekatan dengan Dusun Senapelan (di sekitar Mesjid Raya Pekanbaru sekarang). Tidak berapa lama menetap di sana, Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah kemudian membangun sebuah pekan (pasar) di Senapelan, tetapi pekan itu tidak berkembang. Usaha yang telah dirintisnya tersebut kemudian dilanjutkan oleh putranya, Raja Muda Muhammad Ali di tempat baru yaitu di sekitar pelabuhan sekarang.

Selanjutnya, pada hari Selasa tanggal 21 Rajab 1204 H atau tanggal 23 Juni 1784 M., berdasarkan musyawarah datuk-datuk empat suku (Pesisir, Lima Puluh, Tanah Datar dan Kampar), negeri Senapelan diganti namanya menjadi Pekan Baharu. Sejak saat itu, setiap tanggal 23 Juni ditetapkan sebagai hari jadi Kota Pekanbaru. Mulai saat itu pula, sebutan Senapelan sudah ditinggalkan dan mulai populer dengan sebutan Pekan Baharu. Sejalan dengan perkembangannya, kini Pekan Baharu lebih populer disebut dengan sebutan Kota Pekanbaru, dan oleh pemerintah daerah ditetapkan sebagai ibukota Provinsi Riau.

Jauh sebelum Sultan Abdul Djalil Alamuddin Syah, putra Sultan Abdul Djalil Rahmat Syah memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Siak dari Sungai Mempura ke Senapelan pada 1763 Masehi, Petapahan dan Teratak Buluh juga menjadi pusat perdagangan yang cukup ramai pada saat itu. Kedua daerah ini tempat berkumpulnya para pedagang dari pedalaman Sumatera membawa hasil pertanian, hasil hutan, dan hasil tambang.

Oleh para pedagang, hasil pertanian, hasil hutan dan hasil tambang tersebut mereka bawa ke Singapura dan Malaka mengunakan perahu. Untuk jalur perdagangan Sungai Kampar, pusat perdagangannya terletak di Teratak Buluh. Sedangkan pusat perdagangan jalur Sungai Siak terletak di Petapahan. Perdagangan jalur Sungai Kampar kondisinya kurang aman, perahu pedagang sering hancur dan karam dihantam gelombang (Bono) di Kuala Kampar dan sering juga terjadi perampokan yang dilakukan oleh para lanun. Sedangkan Sungai Siak termasuk jalur perdagangan yang cukup aman.

Senapelan ketika itu hanya sebuah dusun kecil yang letaknya di kuala Sungai Pelan, hanya dihuni oleh dua atau tiga buah rumah saja (sekarang tepatnya di bawah Jembatan Siak I). Pada saat itu di sepanjang Sungai Siak, mulai dari Kuala Tapung sampai ke Kuala Sungai Siak (Sungai Apit) sudah ada kehidupan, hanya pada saat itu rumah-rumah penduduk jaraknya sangat berjauhan dari satu rumah ke rumah lainnya. Ketika itu belum ada tradisi dan kebudayaan, yang ada hanya bahasa, sebagai alat komunikasi bagi orang-orang yang tinggal di pinggir Sungai Siak.


Bahasa sehari-hari yang mereka pakai adalah bahasa Siak, bahasa Gasib, bahasa Perawang dan bahasa Tapung, karena orang-orang inilah yang lalu-lalang melintasi Sungai Siak. Pada saat itu pengaruh bahasa Minang, bahasa Pangkalan Kota Baru dan bahasa Kampar belum masuk ke dalam bahasa orang-orang yang hidup di sepanjang Sungai Siak.


Setelah Sultan Abdul Djalil Alamuddin Syah memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Siak dari Sungai Mempura ke Senapelan, pembesar-pembesar kerajaan serta orang-orang dalam kerajaan serta keluarganya ikut pindah ke Senapelan. Dan pada saat itulah tradisi serta budaya, bahasa sehari-hari terbawa pindah ke Senapelan.

Di Senapelan, sultan membangun istana (istana tersebut tidak terlihat lagi karena terbuat dari kayu). Sultan juga membangun masjid, masjid tersebut berukuran kecil, terbuat dari kayu, makanya masjid tersebut tidak bisa kita lihat lagi sekarang ini. Dari dasar masjid inilah menjadi cikal bakal Masjid Raya Pekanbaru di Pasar Bawah sekarang ini.

Sultan juga membangun jalan raya tembus dari Senapelan ke Teratak Buluh. Sultan Abdul Djalil Alamuddin Syah membangun pasar, yang aktivitasnya hanya sepekan sekali. Belum sempat Senapelan berkembang, Sultan Abdul Djalil Alamuddin Syah wafat pada 1765 masehi dan dimakamkan di samping Masjid Raya Pekanbaru, sekarang dengan gelar Marhum Bukit.

Pasar pekan dilanjutkan oleh putranya Raja Muda Muhammad Ali yang dibantu oleh ponakannya Said Ali (Anak Said Usman). Di masa Raja Muda Muhammad Ali inilah Senapelan mengalami kemajuan yang sangat pesat. Pasar yang dibangun yang pelaksanaannya hanya sekali sepekan melahirkan kata Pekanbaru. Pekan (berarti pasar sekali sepekan). Baru (baru dibangun saat itu). Saat itulah nama Senapelan lama kelamaan semakin menghilang, orang lebih banyak menyebut Pekanbaru.

Setelah Pekanbaru menjadi ramai maka muncullah para pendatang dari pelosok negeri mulai dari Minang Kabau, Pangkalan Kota baru, Kampar, Taluk Kuantan, Pasir Pengaraian, dan lain-lain. Awalnya mereka berdagang, lama kelamaan mereka menetap. Dengan menetapnya para pedagang tersebut di Pekanbaru lalu mereka melahirkan generasi (anak, cucu, cicit). Anak, cucu, dan cicit tersebut menjadi orang Pekanbaru. Masing-masing pedagang yang datang dan menetap di Pekanbaru membawa bahasa serta tradisi dari asal daerah mereka masing-masing. Lalu mereka wariskan kepada anak cucu dan cicit mereka. Dari situlah mulai kaburnya bahasa, tradisi asli Pekanbaru yang berasal dari Kerajaan Siak.

Kalau ingin tahu lebih jelas lagi mengenai sejarah, bahasa serta tradisi asli Pekanbaru, tanyakan kepada orang-orang Pekanbaru yang nenek moyang mereka berasal dari Siak, atau nenek moyang mereka orang-orang yang hidup di dalam lingkungan Kerajaan Siak. Mustahil para pedagang yang datang dan menetap di Pekanbaru menceritakan kepada anak cucu mereka tentang sejarah dan tradisi Pekanbaru.

Yang pasti mereka tanamkan ke dalam pikiran anak cucu mereka bagaimana cara berdagang yang baik dan sukses. Dalam hal ini peran Lembaga Adat Kota Pekanbaru sangat penting sekali, untuk meluruskan dan menjelaskan sejarah dan tradisi asli Pekanbaru. Maka dari itu pengurus Lembaga Adat Kota Pekanbaru mau tak mau harus tahu sejarah serta adat istiadat asli Pekanbaru. Karena Lembaga Adat tempat orang minta petunjuk, minta pendapat dan minta petuah.***
__________________________________
Anas Aismana, seniman, Budayawan Kota Pekanbaru

Readmore..

15 December 2011

ke indahan bono kuala kampar

| 15 December 2011 | 0 komentar


Fenomena alam yang satu ini patut untuk anda saksikan jika anda berwisata ke Pekanbaru. Letaknya di desa Meranti, di sepanjang sungai Kampar. Bono sendiri adalah sebutan warga setempat untuk pertemuan arus air laut dan air sungai yang menghasilkan gelombang yang cukup tinggi. Tingginya bisa mencapai 4-6 meter. Peristiwa ini dapat anda saksikan setiap hari.





Gelombang Bono di Kuala Kampar, Kabuapten Pelalawan diyakini bisa menjadi objek wisata baru yang dapat menarik perhatian dunia. Pasalnya, gelombang Bono yang sempat menghebohkan sepelancar dunia ini, dianggap memiliki keunikan tersendiri.



“Hanya saja, banyak masyarakat yang belum mengetahui. Kita yakin, suatu saat nanti, gelombang Bono bisa menjadi objek wisata baru yang dapat menarik perhatian dunia,” kata Bupati Pelalawan, HM Harris, kepada wartawan, Rabu (8/6/2011) di Jakarta.

Pihaknya, kata Haris, sudah mulai melakukan upaya-upaya untuk mengembangkan Pelalawan melalui berbagai macam promosi agar menarik perhatian wisatawan untuk mengunjuninya, salah satunya adalah gelombang Bono.




“Beberapa waktu lalu sudah didatangi wisatawan peselancar untuk melihat keindahan gelombang Bono. Kabarnya, bulan depan wisatawan peselancar asing akan menunjukkan keahliannya di gelombang Bono yang bisa mencapai empat meter tersebut,” kata Bupati seperti dilansir Riau Pos, Jumat (10/6/2011).

Diperkirakan, pada Juli 2011 mendatang, ada tujuh peselancar asing yang datang ke Kuala Kampar untuk berselancar di gelombang Bono. Selanjutnya, pada akhir 2011, sedikitnya 65 peselancar asing akan menikmati gelombang Bono.



“Dengan keunikan gelombang Bono ini, setidaknya bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing dan juga bagi peselancar. “Kita berharap, Bono ini menjadi terkenal dan dicintai banyak orang,” harap Harris.



Untuk pengembangan objek wisata Pelalawan ini, Pemkab Pelalawan bekerja sama dengan Badan Pengkajian Penerapan Teknologi. Dari sini pihaknya akan melihat peluang pengembangan serta pendapatan dari objek wisata ini.(*)
sumber :

Readmore..

14 December 2011

Daftar Bandar Udara di Indonesia

| 14 December 2011 | 0 komentar

Jawa, Bali dan Nusa Tenggara
CGK - Bandar Udara Soekarno-Hatta, Banten. Singkatan CGK merujuk kepada Cengkareng
HLP - Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta
SUB - Bandar Udara Juanda, Surabaya
SOC - Bandar Udara Adisumarmo, Surakarta
DPS - Bandar Udara Ngurah Rai, Denpasar, Bali
JOG - Bandar Udara Adi Sucipto, Yogyakarta
SRG - Bandar Udara Achmad Yani, Semarang
BDO - Bandar Udara Husein Sastranegara, Bandung
AMI - Bandar Udara Selaparang, Mataram

Sumatra
MES - Bandar Udara Polonia, Medan
BTH - Bandar Udara Hang Nadim, Batam
PDG - Bandar Udara Minangkabau (Ketaping), Padang (beroperasi mulai 22 Juli
KJG - Bandar Udara Kijang Tanjung Pinang, Kepulauan Riau (beroperasi mulai 29 febuari2007)
PLM - Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang
PKU - Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru
BTJ - Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh

Sulawesi
UPG - Hasanuddin, Makassar. Singkatan UPG merujuk kepada Ujung Pandang
MDC - Bandar Udara Sam Ratulangi, Manado
PLW - Palu

Kalimantan
BPN - Bandar Udara Sepinggan, Balikpapan
PNK - Supadio, Pontianak
BDJ - Bandar Udara Syamsuddin Noor, Banjarmasin

Maluku & Papua

Domestik

Jawa, Bali dan Nusa Tenggara
KOE - Bandar Udara Eltari, Kupang
ABU - Bandar Udara Hallwan, Atambua
TMC - Tambolaka, Sumba Barat
LKA - Bandar Udara Dewayangtana, Larantuka
RTG - Bandar Udara Setarcik , Ruteng
MLG - Bandar Udara Abdurachman Saleh , Malang
WGP - Bandar Udara Mauhuwa, Waingapu
CXP - Bandar Udara Tunggul Wulung, Cilacap
BMU - Bandar Udara Muhammad Salahuddin, Bima
SWQ - Bandar Udara Brang Biji, Sumbawa Besar
MOF - Bandar Udara Wai Oti, Maumere
ENE - Bandar Udara H. Aroeboesman, Ende
BMU - Bandar Udara M. Salahudin, Bima

Sumatra
BKS - Fatmawati Soekarno, Bengkulu
BTJ - Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh
BTH - Bandar Udara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau
? - Bandar Udara Kijang, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau
DUM - Bandar Udara Pinang Kampai, Dumai
RGT - Bandar Udara Japura, Rengat
TNJ - Bandar Udara Kijang, Tanjung Pinang
TKG - Radin Inten II, Bandar Lampung
AEG - Aek Godang, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara
SIW - Sibisa, Kabupaten Toba
??? - Pinang Sori, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara
??? - Silangit, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara
DJB - Sultan Thaha Syaifuddin, Jambi
KRC - Depati Parbo, Kerinci
TJQ - Bandar Udara H. A. S. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan
TPK - Teuku Cut Ali, Tapaktuan
LSX - Bandar Udara Landeng Lhoksukon
LSW - Malikul Saleh, Lhoksumawe
PGK - Depati Amir, Pangkal Pinang
NTX - Natuna Ranai, Natuna
GNS - Binaka , Gunung Sitoli
SIQ - Dabo , Singkep
??? - Bandar Udara Sei Pakning, Bengkalis

Sulawesi
PLW - Bandar Udara Mutiara, Palu
PSJ - Kasiguncu, Poso
KDI - Bandar Udara Wolter Wonginsindi , Kendari
GTO - Bandar Udara Jalaluddin, Gorontalo

Kalimantan
BDJ - Bandar Udara Samsudin Noor, Banjarmasin
TRK - Bandar Udara Juwata , Tarakan
PKY - Bandar Udara Tjilik Riwut , Palangkaraya
SQG - Bandar Udara Susilo, Sintang
PSU - Bandar Udara Pangsuma, Putussibau
SMQ - Bandar Udara H.Asan, Sampit
PKN - Bandar Udara Iskandar,Pangkalanbuun
KBU - Bandar Udara Stagen, Kotabaru
TSX - Bandar Udara Tanjung Santan, Santan
SRI - Bandar Udara Temindung, Samarinda

Maluku & Papua
TTE - Bandar Udara Baabullah, Ternate
TIM - Moses Kilangin, Timika
AMQ - Bandar Udara Pattimura, Ambon
MKW - Bandar Udara Rendani, Manokwari
EWI - ??? , Enarotali
DJJ - Bandar Udara Sentani, Jayapura
SOQ - Bandar Udara Jeffman, Sorong
WMX - Bandar Udara Lembah Ballem, Sorong
BIK - Bandar Udara Frans Kaisiepo, Biak
MKQ - Bandar Udara Mopah, Merauke
KNG - Bandar Udara Utarom, Kaimana

Pangkalan militer
PDG - Tabing, Padang
??? - Bandar Udara Iswahyudi, Madiun

Readmore..

12 December 2011

Bukti kekuasaan Allah

| 12 December 2011 | 0 komentar

katakanlah," siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang berkuasa( menciptakan ) pendengaran dan penglihatan, dan **(siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang
hidup ),dan siapakah yang mengatur segala urusan?, maka mereka akan menjawab," Allah ".Maka katakanlah mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)>>>>( yunus :32 ).

ket : ** seumpama untuk ayat ini dengan mengeluarkan anak ayam dari telur,dan telur dari ayam, dan dapat juga diartikan bahwa pergiliran kekuasaan diantara bangsa2 dan timbul tenggelmnya suatu umat adalah menurut hukum allah SWT.

Readmore..

Joint Now

 

My Visitor

Enews And Updates

About Me

Recent Posts

© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com